Mati Sejak 2015, Andespin Nyalakan Kembali Warna Warni Terumbu Karang Mandeh dan Sungai PInang

- Senin, 29 November 2021 | 19:56 WIB
Terumbu Karang hasil transplantasi yang dilakukan Andespin di perairan Mandeh dan Sungai Pinang (Istimewa)
Terumbu Karang hasil transplantasi yang dilakukan Andespin di perairan Mandeh dan Sungai Pinang (Istimewa)

HALUAN PADANG - Kawasan bawah laut objek wisata Mandeh dan Sungai Pinang, Kabupaten Pesisir Selatan kembali merona dengan kembali tumbuhnya terumbu karang yang berwarna-warni di dasar laut kawasan wisata itu.

Ratusan Terumbu Karang tersebut tumbuh kembali setelah kelompok pegiat alam bahari, Andespin kerap melakukan transplantasi sejak beberapa tahun yang lalu.

"Bagi kami, Terumbu Karang adalah nyawa bagi pesisir pantai. Saat karang mati, maka terancamlah kehidupan laut kami. Inilah alasan kenapa kami melakukan transplantasi, demi menyelamatkan manusia, demi menyelamatkan alam," kata David, promotor gerakan Andespin.

Selama melakukan proses transplantasi, Andespin tidak sendiri. David menyebutkan, dirinya bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Laut (BPSPL) Kota Padang.

"Kami bekerjasama secara teknis maupun dukungan materis. Yang paling penting, disini kami bekerjasama dengan kesatuan misi-menyelamatkan lingkungan bawah laut," jelas dia.

Fenomena Coral Bleaching di kawasan perairan Mandeh dan Sungai Pinang, Pesisir Selatan sejak 2015 lalu memang berdampak cukup besar terhadap kehidupan sosial orang-orang Sungai Pisang, Sungai Pinang, Sungai Nyalo dan perairan pantai lainya di daerah itu.

"Tangkapan nelayan berkurang, sebab ikan-ikan yang ada di dekat karang juga berkurang. Jika ikan berkurang, maka pendapatan nelayan juga terganggu. Begitu juga di sektor wisata, saat wisatawan menyelam, tidak ada lagi karang yang indah yang bisa dinikmati," paparnya.

"Namun di sisi lain, meskipun kini Terumbu Karang disini sudah bersemi kembali, kami tetap mengedukasi wisatawan agar hati-hati beraktifitas di bawah laut. Jangan sampai merusak karang," imbuhnya.

David menjelaskan, proses penanaman atau transplantasi Terumbu Karang ini menggunakan dua metode. Pertama adalah bibit Terumbu Karang ditanam menggunakan sistem rak meja, kedua tanpa sistem rak meja.

"Untuk saat ini kami menanam sekitar 40 bak. Ada dua jenis bak, ada yang memakai rak dan ada juga yang tidak. namun, sekrang lebih banyak yang memakai rak," ungkapnya.

Tugas Andespin, kata David, tidak hanya sebatas penanaman saja, setelah proses itu dirinya bersama komunitas Andespin juga harus memonitoring perkembangan Terumbu Karang.

"Monitoring ini penting untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan karang yang kami tanam. Bagaimana tumbuhnya, ada gangguan atau tidak dan lain sebagainya," papar alumni Universitas Bung Hatta tersebut.

Selain Terumbu Karang, Andespin juga menanami kawasan muara sungai yang ada di sekitaran mandeh tersebut dengan tanaman Mangrove. Hal demikian untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.

"Sudah tidak terhitung berapa Mangrove yang kami tanam. Ada yang dibantu pemerintah ada juga dari swadaya kami sendiri. Supaya apa? supaya keseimbangan alam ini masih bisa dinikmmati oleh anak cucu kami nanti," pungkas David.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Nasib Malang Si Sapi Bantuan

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:31 WIB
X