Sumbar Darurat Kekerasan Seksual

- Rabu, 17 November 2021 | 18:23 WIB
Ilustrasi Kekerasan Seksual (HALUAN CREATIVE | M Budiman)
Ilustrasi Kekerasan Seksual (HALUAN CREATIVE | M Budiman)

HALUAN PADANG - Kasus kekerasan seksual tengah marak di Sumatera Barat. Sejak September 2021 lalu, Haluan Padang mencatat ada 5 kasus pemerkosaan dan pencabulan, 4 diantaranya korbannya adalah anak-anak. Sedangkan 1 kasus lainnya adalah mahasiswi.

Pada 10 September 2021 lalu, seorang bocah berinisial LK menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh tetangganya yang berinisial FR (56). Dalam kasus ini, FR mencabuli LK saat tengah berburu di hutan.

Di tengah rindangnya hutan, FR melakukan tindakan bejatnya pada LK berkali-kali hingga korban mengalami infeksi pada anus. Tersangka FR sendiri merupakan seorang ASN yang berdinas di Kabupaten Agam.

Saat dicabuli FR, LK sempat dipukuli hingga mengalami luka sedang dan kemudian di telanjangi. Semua itu terjadi di dalam kerindangan hutan Kabupaten Agam.

Tidak hanya itu, dampak terburuk yang dialami LK selain dari infeksi anus adalah dia terganggu secara psikologis. Mentalnya terganggu, terguncang dan harus mendapatkan penanganan khusus dari pihak kepolisian.

Sedangkan FR sendiri, harus menjalani hukuman atas pelanggaran pasal 76E pasal 82 ayat (1) UU No 35 Tahun 2014 tentang perlingungan anak dan pasal 289, pasal 292 KUHP dengan ancaman maksimal 15 (lima belas) tahun penjara.

Kasus kedua terjadi masih pada sekitar bulan September. Seorang mahasiswi Universitas Riau di Kabupaten Solok berinisial KSI mengaku nyaris jadi korban pemerkosaan seorang lelaki yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak kepolisian, namun terduga pelaku masih berkeliaran.

Hal demikian ia alami saat sedang mengganti pakaian di dalam kamarnya sendiri. Si pelaku masuk ke dalam kamar dan membuat KSI ketakutan. Mendapati tindakan demikian, KSI merasa dirinya sudah tidak aman lagi.

Ia pun melaporkan kejadian yang menimpanya tersebut pada Kepolisian Resor Solok Arosuka, namun setelah sebulan melapor, kasus yang dialami KSI tidak kunjung ditindak. Polisi seakan bungkam atas tindakan yang dialami KSI.

"Padahal sudah dilaporkan ke Polres Arosuka untuk diproses, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Saya dan keluarga berharap kasusnya segera diproses," katanya pada sejumlah media pada Senin (8/11) lalu.

Mendengar keterangan KSI ramai di media massa, Polres Solok Arosuka pun akhirnya angkat bicara. Kasat Reskrim Polres Arosuka Iptu Rifki Yudha Ersanda pun berjanji bahwa pihaknya akan memproses laporan dari KSI-sebulan setelah ia melaporkan tindakan yang ia alami.

"Kami akan proses. Kami akan memeriksa saksi dalam kejadian itu. Termasuk pelaku," kata Rifki singkat.

Kasus ketiga terungkap pada Jumat (12/11) lalu. Pada kasus ini seorang guru ngaji di sebuah musala di kawasan Lubuk Kilangan, Kota Padang menjadi pelakunya. Lagi-lagi, korbannya adalah anak-anak yang menjadi murid sang guru.

Tindakan bejat guru ngaji ini bermula dari laporan seorang murid yang masih berumur 8 tahun pada orang tuanya. Mendengar laporan dari buah hati, orang tua murid tersebut tidak terima dan kemudian melaporkan tindakan si guru ngaji pada polisi.

Usai mendapatkan laporan, polisi di Polsek Lubuk Kilangan langsung bergerak cepat, alhasil pelaku berhasil menangkap si guru pada Jumat lalu di musalanya sendiri, tempat dia mengajar ngaji yang sekaligus ia gunakan sebagai tempat untuk mencabuli muridnya.

Saat menjalani pemeriksaan, polisi mendapatkan fakta yang mengejutkan. Ternyata korban si guru ngaji tidak hanya satu orang, tapi banyak. Menurut pengakuannya pada polisi, setidaknya ada 3 orang muridnya yang sudah ia gagahi.

"Pencabulan dilakukan terhadap tiga orang anak dan di tiga lokasi berbeda," kata Kanit Reskrim Polsek Lubuk Kilangan, Iptu Nofridal. Kini, guru ngaji tersebut telah ditahan untuk menjalani proses hukum dengan ancaman penjara 15 tahun akibat pelanggaran Pasal 82 tentang Undang-Undang Perlindungan Anak.

Kasus keempat adalah yang paling bikin miris. Kaasus keempat ini dialami oleh dua orang kakak beradik di Kabupaten Pasaman. Lagi-lagi keduanya masih di bawah umur, dan tindakan laknat itu dilakukan oleh ayah kandung mereka.

Dalam penelusuran Haluan Padang, si ayah tidak sendiri. Menurut informasi yang diperoleh dari salah satu narasumber yang tidak ingin disebutkan, sang ayah juga mengajak teman-temannya untuk menyetubuhi anaknya sendiri.

Setelah disetubuhi kedua korban juga diketahui mendapat ancaman agar tidak bergaul dan bertegur sapa dengan anggota keluarga yang lain.

Akibat perbuatan sang ayah, salah satu korban juga mengidap infeksi kelamin akibat perbuatan bejatnya ayahnya dan sempat di rawat di RSUD Lubuk Sikaping hingga pada akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada hari Jumat (12/11).

Mendapati dirinya sudah menjadi incaran polisi, sang ayah pun kabur keluar Sumatera Barat meninggal luka di tubuh anaknya sendiri, buah hatinya.

Belum selesai kasus pemerkosaan anak di Pasaman, giliran Kota Padang yang membuat buncah. Kasus di Padang ini adalah kasus kelima yang terjadi dalam kurun sebulan.

Kali ini, pemerkosaan dialami oleh dua orang bocah warga Padang Selatan. Dua kakak beradik ini diperkosa oleh 6 orang yang 4 diantaranya merupakan kakek, paman dan kakak mereka. Tidak hanya dari anggota keluarga, dua orang lain yang merupakan tetangga juga ikut campur tangan.

Akibat tindakan bejat orang-orang yang harus dipercaya oleh korban, orang-orang yang harus melindungi dan memberikan kasih sayang pada korban ini, mereka mengalami infeksi pada bagian kelamin. Parahnya, masa depan mereka juga terenggut.

Kini, satuan Reserse Kriminal Polresta Padang tengah memburu dua orang pelaku lain, yang notabene adalah tetangga dari si korban.

"Dua pelaku lain masih diburu, sekarang kita fokus dulu ke korban. Untuk penanganannya diberikan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Soal kondisi psikis korban, kami juga akan berkoordinasi dengan banyak pihak," kata Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Rico Fernanda.

Angka Kekerasan Seksual

Terlepas dari 5 kasus tersebut, ternyata angka kasus kekerasan seksual di Sumater Barat dalam kurun waktu satu tahun belakangan cukup tinggi. Nurani Perempuan mencatat, setidaknya ada 63 kasus kekerasan seksual yang terjadi sejak Januari 2021.

Nurani Perempuan merinci dari Januari hingga Juli 2021 setidaknya ada 7 kasus pemerkosaan yang terjadi di Sumbar, 4 pelecehan seksual, dan 1 kasus sodomi.

Angka-angka ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan tahun 2019 hingga 2020 lalu. Pada tahun 2019, Nurani Perempuan mencatat ada 105 kasus yang menimpa perempuan, dan di tahun 2020 tercatat mencapai 94 kasus.

Lagi-lagi, dari data dua tahun itu, angka pemerkosaan di tahun 2019 mencapai 25 kasus, 6 kasus pelecehan seksual, dan 9 kasus sodomi. Sedangkan pada tahun 2020, angka pemerkosaan mencapai 34 kasus, pelecehan seksual 13 kasus, dan sodomi 1 kasus.

Dampak Pada Korban

Kasus kekerasan seksual yang banyak melibatkan anak-anak di Sumbar ini bisa berdampak buruk terhadap anak. Bagi pakar, hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap kembang tumbuh anak, kesehatan, masa depan serta dampak psikologi si anak.

Di sisi lain, kasus-kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa ternyata masih rendahnya perlindungan anak di lingkungan sekitarnya, demikian pendapat Dosen Psikologi Anak Universitas Andalas (Unand) Padang Nila Anggrainy.

Ia menilai, anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual mengalami beberapa dampak secara fisik, psikologis dan kesehatannya.

"Secara fisik mungkin ada permasalahan di organ vital anak, luka atau pendarahan, kalau secara emosi, beberapa kasus membuat emosi si anak menjadi tidak terkontrol dan dari sisi sosial dalam kasus ini kemungkinan si anak akan menarik diri dari lingkungan, biasanya riang atau senang bermain bisa jadi akan lebih banyak diam dan mengasingkan diri," katanya.

Ia mengatakan, hal yang perlu dipahami adalah bahwa anak-anak memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbahasa, berbeda dengan orang dewasa yang ketika ada masalah bisa mengungkapkannya. Dalam kasus ini kita bisa menilai dengan cara melihat dari perubahan perilaku mereka.

"Ada beberapa anak yang mengalami kemunduran dalam perkembangannya, contohnya seperti si anak yang biasanya tidak pernah menggigit jari, tiba-tiba sering menggigit jarinya, itu salah satu perubahan yang menandakan bahwa si anak mengalami ketakutan atau mencari kenyamanan," ucapnya.

Namun dikatakan Nila, ada juga beberapa anak memiliki perilaku yang tidak berubah, hal ini disebabkan ketidakpahaman si anak terhadap apa yang terjadi padanya. Dampak yang dirasakan pun mungkin tidak saat ini, tetapi saat usia si anak bertambah dan ia mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Peran Keluarga

Disinggung soal kondisi yang menyebabkan terjadinya kasus pemerkosaan terhadap anak, Nila menjelaskan bahwa pengaruh lingkungan keluarga merupakan hal yang paling mendasar, jika peran-peran di dalam sebuah keluarga tidak berjalan dengan baik, maka kecendrungan anak-anak untuk menjadi korban itu semakin besar.

"Misalnya seperti si anak ingin mengatakan sesuatu, tapi ia takut, ini menandakan komunikasi di dalam keluarga itu tidak lancar. Hal ini yang kemudian membuat si anak berkemungkinan menjadi korban yang berulang-ulang, apalagi kalau pelakunya merupakan orang-orang terdekat," katanya.

"Banyak faktor di dalam keluarga yang tidak berani mengangkat kasus tersebut ke ranah hukum, seperti harga diri keluarga atau malu akan aib, padahal idealnya yang perlu diperhatikan itu adalah kesejahteraan psikologis si anak."

"Walaupun mereka kecil namun dampaknya itu tidak bisa kita diamkan saja, yang namanya peristiwa traumatis itu tidak akan hilang seiring dengan berjalannya waktu," tambahnya.

Sementara untuk perbedaan pemahaman orang sekitar di lingkungan si anak juga berpengaruh terhadap psikologi si anak, ada sebagian orang yang memberikan dampingan dan dukungan ada juga yang malah mengucilkan si anak.

Padahal dalam kondisi seperti seperti ini dukungan dan pembelaan terhadap si anak adalah hal yang sangat penting.

"Untuk itu, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua sebelum kasus itu menimpa si anak adalah lebih banyak mendengarkan si anak ketika si anak bercerita. Kebanyakan orang tua rentan memarahi anak ketika berbuat salah," papar dia.

"Hal ini yang kemudian membuat anak menjadi takut untuk bercerita dan memilih memendam keluhannya. Jadi, orang tua harus bisa mendengarkan si anak, merangkul si anak dan memberikan keyakinan bahwa mereka akan aman-aman saja ketika bercerita, karena kebanyakan anak berpikir bahwa ketika mereka bercerita ia akan dimarahi."

"Selanjutnya yang terpenting bagi orang tua adalah sensitif terhadap perubahan perilaku si anak karena orang tua yang kurang sensitif yang kadang membuat kasus itu lama terungkap," tutupnya.

Hukuman Pelaku Kekerasan Seksual

Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat juga angkat bicara perihal kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di ranah Minang.

“LKAAM sangat mengutuk perbuatan itu!,” kata Ketua LKAAM, M Sayuti Dt. Rajo Pangulu, dalam wawancara dengan Haluanpadang via percakapan Whatssap, Rabu (17/11).

Lebih jauh, Dt Rajo Pangulu itu mengatakan bahwa dalam Adat Minangkabau pelaku perkosaan seperti itu akan dihukum dengan berat. Tidak hanya berupa denda materil, namun juga hukum sosial. Hukum Adat seperti ini bisa ditimpakan pada para pelaku begitu mereka menyelesaikan hukuman yang diberikan negara.

“Secara Adat pelakunya harus membantai seekor kerbau untuk meminta maaf pada korban dan anak nagari, pada masyarakat. Permintaan maaf itu harus diumumkan di Masjid, setelah mereka keluar penjara, agar semua orang mengetahui kalau mereka mengaku bersalah,” lanjut Dt Rajo Pangulu.

Selain itu, LKAAM juga menuntut agar para pelaku dihukum seberat-beratnya. “Mari kita serahkan proses selanjutnya pada yang berwenang agar para pelaku itu dihukum seberat-beratnya,” pungkasnya.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mendulang Cuan dari Setrika Arang

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:41 WIB

Sumbar Darurat Kekerasan Seksual

Rabu, 17 November 2021 | 18:23 WIB
X