Nadiem Nilai Pelecehan Seksual di Kampus Bak Gunung Es, Begini Faktanya di Sumbar

- Selasa, 16 November 2021 | 13:43 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual. (Dok.ist)
Ilustrasi pelecehan seksual. (Dok.ist)

HALUAN PADANG - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menyampaikan bahwa kekerasan seksual di perguruan tinggi merupakan hal yang nyata namun tidak banyak mendapat sorotan. Bahkan menurutnya berdasarkan survei, sekitar 77 persen dosen mengetahui adanya tindak kekerasan seksual di kampus

Hal tersebut disampaikan oleh Nadiem Makarim diundang di kanal YouTube Deddy Corbuzier, Selasa (16/11)

Dalam kesempatan tersebut, Nadiem Makarim menuturkan bahwa kekerasan seksual di perguruan tinggi laksana fenomena gunung es. Ia juga mengakui bahwa telah mengetahui tentang isu kekerasan seksual di perguruan tinggi itu bahkan telah diketahui olehnya saat awal menjadi Menteri.

Nadiem Makarim menyebut bahwa kasus-kasus kekerasaan seksual di kampus sangat “dahsyat dan parah.”

“Waktu saya masuk menjadi Menteri saya sudah mendengar berbagai macam desas-desus mengenai isu kekerasan seksual,” kata Nadiem Makarim di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Selasa (16/11), dilansir dari Pikiran Rakyat.

“Setelah dikorek lebih dalam lagi, itu ternyata fenomena gunung es yang dahsyat, parah banget,” jelas Mendikbud Ristek tersebut.

Lebih lanjut Nadiem Makarim menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan, sebanyak 77 persen dosen mengetahui adanya kasus kekerasan seksual di kampus.

“Sebanyak 77 persen dari dosen yang kita survei, mereka telah melihat adanya kekerasan seksual di dalam kampusnya itu sendiri,” ujar.

“Dan dari 77 persen itu, kasus itu 67 persen dari kasus itu, bahkan tidak dilaporkan sama sekali,” ucapnya menegaskan.

Kemudian Deddy Corbizier sebagai host dari siniar tersebut menilai, 67 persen kasus kekerasan seksual tak dilaporkan lantaran korban mengalami rasa takut atau tak memiliki bukti untuk melaporkannya.

“All of the about,” ujar Nadiem Makariem menjawab pendapat tersebut.

Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus di Sumbar

Suara Kampus, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di UIN Imam Bonjol (IB) pada 10 Oktober 2021 pernah menuliskan bahwa mayoritas pelaku pekecehan seksual di kampus, dalam hal ini UIN IB, adalah dosen.

Biasanya, modus dari pelecehan seksual tersebut berkaitan dengan kegiatan akademik, misalnya saat bimbingan skripsi.

Liputan berjudul Lahan Subur Kekerasan Seksual, UIN IB Bisa Apa tersebut bahkan mencatat ada tujuh informasi yang dihimpun LPM tersebut mengenai adanya pelecehan seksual yang dialami mahasiswa UIN IB.

Salah satu narasumber dalam liputan tersebut, Bunga (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa selama bimbingan dengan seorang dosen, ia mengalami perlakuan yang tidak senonoh, mulai dari sentuhan fisik yang lama tanpa persetujuan dan diajak berbicara bernada sensual hingga membuat Bunga risih.

Kemudian di akhir bimbingan, dosen tersebut meminta Bunga untuk tidak menceritakan kejadian tersebut ke siapa pun.

Sementara itu, Melati (bukan nama sebenarnya), narasumber lainnya mengaku mengalami perbuatan yang tidak mengenakkan ketika bersalaman dengan dosen.

“Ia menggenggam tangan saya dengan lama saat bersalaman, itupun dilepaskan saat saya memaksa,” terangnya, dilansir dari suarakampus.com

Berdasarkan liputan Suara Kampus, didapati bahwa beberapa kasus pelecehan seksual tidak terungkap karena korban takut untuk melapor.

“Saya takut untuk melaporkan dosen tersebut ke kampus. Sebenarnya beratm namun saya memilih diam dan berusaha melupakan kejadian itu,” ujar Bunga, dikutip dari situs resmi LPM Suara Kampus.

Sementara itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nurani Perempuan Woman Crisis Centre ketika dikonfirmasi via telpon pada Senin (15/11) menyampaikan bahwa pelecehan seksual di kampus tidak banyak dilaporkan.

“Kami tidak merinci secara khusus untuk pelecehan seksual di lingkungan kampus, namun seingat saya dalam tahun ini laporan yang diterima dari kalangan mahasiswa yang menjadi korban pelecehan tidak sampai 10, lebih sedikit dibanding laporan kekerasan seksual lainnya,” jelas Meri Rahmi Yanti, Direktur Nurani Perempuan WCC.

Untuk diketahui, dari awal tahun hingga Oktober 2021, LSM tersebut telah menerima setidaknya 63 laporan kekerasan seksual.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Nasib Malang Si Sapi Bantuan

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:31 WIB
X