Kolonel Inf Surya Wibawa Bicara tentang Misi Kemanusiaan dan Harapan sebagai Danrindam XVIII/Kasuari

- Kamis, 28 Oktober 2021 | 18:41 WIB

Haluan Padang--Kolonel Inf Surya Wibawa Suparman telah resmi menerima jabatan sebagai Komandan Rindam XVIII/Kasuari dari Inf Choirul Anam pada Selasa (26/10).  Perwira yang berasal dari Jawa Timur tersebut membagi pengalaman dan harapannya sebagai pejabat milter di pulau paling timur NKRI.

Surya lulus dari Akademi Militer di Magelang pada 1995. Sebelum bertugas di Papua, perwira militer tersebut telah menerima berbagai pengalaman sebagai bagian dari penjaga kedaulatan republik. Kewajiban tersebut bahkan sampai mengantarkan ia bersama rekan-rekannya ke Libanon.

Sebelum bertugas di Rindam XVIII/Kasuari, Lulusan Akademi Militer Magelang pada 1995 tersebut sempat bertugas di Komando Daerah Militer (Kodam) IV Diponegoro yang meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika bertugas di wilayah militer tersebut, ia kemudian ditunjuk sebagai Komandan Kontingen Garuda di Lebanon untuk misi perdamaian PBB pada tahun 2016-2017

Kontingen Garuda dilepas langsung oleh Panglima Tentara Nasional Indonesia kala itu, Gatot Nurmantyo, ”Saya ingat perkataan Pak Gatot Nurmantyo waktu itu, bahwa kami brangkat ke sana bukan hanya jadi tentara, namun juga menjadi ‘duta’ Indonesia di negeri tersebut,” jelas Surya. Wejangan dari sang panglima mendorong Surya dan Kontingen Garuda kala itu untuk menunjukkan karakter bangsa Indonesia dengan sebaik mungkin.

Surya menambahkan bahwa misi Kontingen Garuda kala itu berfokus pada kegiatan kemanusiaan untuk perdamaian, “Berdasarkan pengamatan saya, Indonesia dipercaya PBB dalam rangka misi perdamaian, terlihat dari banyaknya permintaan dari PBB untuk indonesia agar menurunkan kontingen untuk misi-misi perdamaian,” jelas Surya.

Karena membawa misi kemanusiaan, Surya mengungkapkan, Kontingen Garuda kala itu berusaha dekat dengan masyarakat, “Saya lihat budaya sopan santun kita bagus, kita bawa ke luar negeri, dengan kita bersikap sopan santun sama masyarakat dan rakyat, beramah tamah. Kita bisa dekat dengan berbagai kalangan, hingga kita bisa mengadakan pengobatan massal. Kita menjalin kedekatan baik dengan militer maupun dengan masyarakat sipil,” imbuhnya.

Seingat Surya, kala itu ada sekitar 42 negara yang ditugaskan untuk misi perdamaian di Lebanon. Menurutnya, kontingen dari negara lain menaruh rasa hormat yang tinggi untuk kontingen Indonesia.

Lanjutnya, kontingen Indonesia dianggap tidak kalah dalam segi militer jika dibandingkan dengan milisi lain di tingkat internasional. “Dalam segi komunikasi kita bagus, dari segi disiplin juga tidak kalah, sehingga wajar mereka menerima kedatangan kita untuk misi kemanusiaan,” jelas Surya.

Menurut Surya, hal tersebut tidak terlepas dari komitmen terhadap “Delapan Wajib TNI.” Ia menjelaskan delapan hal wajib bagi TNI tersebut yaitu bersikap ramah tamah terhadap rakyat, bersikap sopan santun terhadap rakyat, menjunjung tinggi kehormatan wanita, menjaga  kehormatan diri di muka umum, senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.

“Kemudian, tidak sekali-kali merugikan rakyat, tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat, serta menjadi contoh dan  memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya,” jelas Sury. Menurutnya, karena menerapkan prinsip-prinsip tersebut maka kehadiran Kontingen Garuda dapat diterima dengan baik.

Halaman:

Editor: Nuraini

Tags

Terkini

Sumbar Darurat Kekerasan Seksual

Rabu, 17 November 2021 | 18:23 WIB

Merayakan Kesetaraan dengan Sepiring Nasi Padang

Selasa, 5 Oktober 2021 | 20:02 WIB
X