Merayakan Kesetaraan dengan Sepiring Nasi Padang

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 20:02 WIB
Masakan Padang
Masakan Padang

HALUAN PADANG - Nasi Padang-begitu sebutan untuk makanan khas Minangkabau yang dikenal luas seantero Nusantara. Berasal dari tanah Minangkabau-Sumatera Barat, Nasi Padang menjadi menu andalan banyak orang di Tanah Air, tidak hanya orang-orang Minang saja.

Nasi Padang adalah makanan yang berisi aneka menu masakan, mulai dari Rendang, aneka gulai dan sayur serta penyedap rasa alamiah yang lahir dari olahan cabai, bawang serta bahan masakan lainnya.

Dalam sepiring Nasi Padang, penikmat kuliner Nusantara akan mendapatkan cita rasa yang beragam dari berbagai macam menu yang tersaji dalam sapiriang nasi-begitu orang Minang menyebutnya.

Pemerhati kuliner Minang, Sri Owen dalam bukunya The Home Book of Indonesia Cookery yang terbit pada 1976, menyebutkan bahwa setidaknya ada lebih dari 20 lauk yang siap menjadi teman santap dalam sepiring nasi padang.

Menurut perempuan kelahiran Padangpanjang yang telah menetap di London, Inggris sejak 1964 itu lauk-lauk tadi terdiri dari aneka gulai berbahan hewani seperti daging sapi, kerbau, ayam dan ikan serta beragam sayur di samping pedasnya aneka sambal.

Kekayaan rempah seperti kapulaga, jinten, kunyit, jahe, lengkuas, berpadu nikmat dengan limpahan santan kelapa dan warna-warni alami cabai.

Namun sejarahnya, penyajian makanan khas Sumatera Barat ini ternyata sudah berlangsung sejak lama, tepatnya pada tahun 1911 lalu.

Dokumentasi foto karya Jean Demmeni yang menjadi koleksi Pusat Pustaka Digital Universitas Leiden Belanda (KITLV) merekam jelas awal mula kehadiran rumah makan Padang di jaman dulu.

Terekam bahwa bentuk kedainya begitu sederhana, terbuat dari susunan beberapa batang bambu sehingga membentuk rumah-rumahan dengan atap rumbia. Pada beberapa bagiannya diberi tirai kain sekadar untuk menahan teriknya panas mentari.

Hidangan lauk pun hanya ditempatkan pada wadah-wadah tembikar besar saja. Bangkunya pun hanya terbuat dari beberapa bilah kayu yang disusun sedemikian rupa mengelilingi wadah tembikar berisi lauk.

Namun, kondisi itu tidak mematahkan selera orang-orang untuk lahap menikmati setiap sajian-begitulah mula lahirnya rumah makan di tanah Minang.

Namun, untuk penamaan Rumah Makan Padang sendiri ternyata tidak sesederhana menikmati karya foto Jean Demmeni yang membawa pikir berkelana jauh ke jaman Kolonial.

Pakar sejarah minangkabau Gusti Asnan menjelaskan, masakan Padang dikenal Nusantara pasca peristiwa pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI pada 1961. Bukan sebuah awal yang bagus untuk sejarah sepiring nasi.

"Peristiwa pemberontakan PRRI ini telah menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran warga keluar dari Sumbar termasuk ke Pulau Jawa," begitu kata Menurut profesor sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang tersebut.

Akibat peristiwa ini, tukas Gusti tak sedikit dari orang Minang perantauan yang kemudian berusaha mengganti penyebutan identitas asal mereka termasuk asal etnik dari Minangkabau menjadi Padang.

Termasuk pula di dalamnya menamai kedai sebagai rumah makan padang dan itu dipertahankan sampai hari ini. Bahkan jauh lebih populer dari sebutan lama sebagai lapaunasi, los lambung atau karan.

Lapau sendiri adalah bahasa Minangkabau untuk kedai dan los lambung adalah istilah setempat untuk menyebut warung makan.

Dalam berkehidupan, penyajian masakan khas Minangkabau ini juga memiliki nilai filosofisnya sendiri. William Wongso dalam buku Cita Rasa Nusantara-nya menyebutkan bahwa kebiasaan penyajian makanan di setiap rumah makan melambangkan bahwa masyarakat Minangkabau tidak mengenal perbedaan antara si kaya dan si miskin.

Nasi Padang disajikan dengan teknik yang tinggi. Di setiap rumah makan Padang si pelayan hanya mengandalkan tangan sebelah kiri untuk membawa aneka lauk yang bisa mencapai 13 jenis sekali bawa dan membentuk 2-3 tingkat susunan di lengannya.

Ketika sampai di meja pemesan nasi Padang, tangan kanan si pelayan dengan cekatan segera menurunkan susunan piring berisi aneka lauk dan sambal ke atas meja.

Maka tersajilah di hadapan kita parade warna mencolok khas rempah seperti merah, oranye, kuning, hijau dan cokelat tua berasal dari aneka lauk tadi.

Bagi Pengajar Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang Asmar Yulastri ada filosofi tinggi di balik cara penyajian makanan bersusun yang membutuhkan keahlian tinggi, yaitu bermakna kecepatan.

Sebagai bentuk menghargai tamu, makanan mesti dihidangkan dengan cepat agar mereka tidak menunggu terlalu lama.(*)

Editor: Erlangga Aditya

Tags

Terkini

Merayakan Kesetaraan dengan Sepiring Nasi Padang

Selasa, 5 Oktober 2021 | 20:02 WIB

G30S PKI: Untuk Apa Takut dengan Hantu Komunis?

Kamis, 30 September 2021 | 18:57 WIB

Jagalah Buya!

Senin, 6 September 2021 | 18:37 WIB

Terpopuler

X