Medi Iswandi, 'Orang Dapur' yang Jadi Otak Pembangunan Sumatera Barat ke Depan

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:18 WIB

HALUANPADANG.COM - “Saya hanya ‘orang dapur’. Jika perencanaan dan hasil kerja saya buruk, saya siap dimarahi. Namun jika hasil kerja saya memuaskan, pujian bisa disampaikan ke kasir,” ujar Medi Iswandi, Kepala Bappeda Sumatera Barat yang baru dilantik pada 1 Oktober 2021, dalam wawancara bersama Haluan Padang, Minggu (3/10).

Laporan: Daffa Benny

Meski kini sudah menjabat sebagai Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat, keramahan Medi Terhadap semua orang tidak berkurang. Medi memang dikenal ramah pada siapapun. Namun, di balik keramahannya ia mempunyai sikap disiplin dan kerja keras.

Menjadi Kepala Bappeda Povinsi tentu tidaklah mudah. Pasalnya di lembaga tersebut arah pembangunan sebuah Provinsi ditentukan. Segala keputusan dan kebijakan yang diambil akan berdampak tidak hanya satu atau dua tahun, melainkan bisa sampai 5 tahun, 10 tahun bahkan 50 tahun kemudian.

Tentu saja seorang Kepala Daerah tidak sembarangan memilih orang yang akan menjadi Kepala Bappeda. Hanya orang tertentu dengan rekam jejak yang baik di pemerintahan yang bisa terpilih. Butuh disiplin dan integritas yang Tinggi untuk memimpin Bappeda Provinsi Sumatera Barat.

Agaknya Integritas dan kedisiplinan itulah yang membawa Medi Iswandi menjadi seorang Kepala Bappeda.

Menyalakan Harapan

Sikap disiplin yang tumbuh dalam dirinya memang tidak datang begitu saja. Sikap tersebut telah ditanam dan dipupuk semenjak kecil. Alumni SMAN 1 Solok yang lahir pada 1975 ini merupakan anak laki-laki paling tua di keluarga, dididik oleh orang tua dengan pola asuh yang cukup ‘keras’. Alhasil, selama masa sekolah ia menjadi siswa yang ulet hingga kerap meraih juara kelas.

Lulus dari SMAN 1 Solok, Medi merantau untuk kuliah di Universitas Islam Bandung (Unisba). Selama kuliah ia aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Tambang dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang. Merasa butuh untuk menambah penghasilan dan bertahan di Bandung, ia berusaha mendapatkan pekerjaan hingga berhasil menjadi asisten dosen.

Selepas dari bandung, takdir membawa Medi menuju Sawahlunto, kota yang tidak jauh dari tanah kelahirannya.

Lulus kuliah, ia mengikuti seleksi CPNS, hingga diterima di Bappeda Kota Sawahlunto pada tahun 2000. Berangkat sebagai staf, Medi kemudian meraih posisi Kepala Seksi Tata Ruang, Tata Guna Tanah dan Sumber Daya Alam di Sawahlunto. 

Ketika Medi masuk ke Sawahlunto sebagai Aparatur Sipil Negara, kota tersebut habis babak belur diterpa pengaruh krisis ekonomi pasca reformasi. Hasil tambang batu bara di Sawahlunto pun tak bisa diharapkan karena jumlahnya yang kian menipis. 

Batu bara yang dulu adalah energi ekonomi Sawahlunto, kini telah menipis. Energinya redup dan kota itupun lesu. Tak bergairah. Orang-orang pergi dari Sawahlunto mencari sumber penghidupan baru.

Berbeda dengan kebanyakan orang, Medi melihat sesuatu yang lain. Ia memasuki rumah yang jutru ditinggalkan oleh orang-orang. Ketika orang tidak lagi melihat harapan, Medi justru menyalakan harapannya sendiri di Sawahlunto.

“Ketika orang-orang banyak keluar dari Sawahlunto, saya malah masuk,” jelas Medi sembari mengingat kondisi Sawahlunto kala itu.

“Sekitar ribuan orang keluar dari Sawahlunto, karena roda perekonomian macet sejak PT Bukit Asam menghentikan aktivitas tambang kota itu,” imbuh Medi.

“Sehabis menerima gaji saya bahkan sulit untuk berbelanja kebutuhan pokok, karena sedikit orang orang yang berjualan,” jelas Medi terkait kondisi perekonomian Sawahlunto kala itu.

Selama periode itu (1999-2001), Medi menemukan banyak penjarahan terhadap batu bara yang masih tersisa di bawah tanah Sawahlunto. “Masyarakat saat itu kesulitan ekonomi, mereka melakukan penambangan liar karena terdesak,” jelas Medi.

Menyalakan harapan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Medi sempat berkeinginan untuk pindah dari Sawahlunto dan mencari tempat dinas baru. Ketika harapan itu hampir padam, ada satu orang yang kemudian kembali menyalakannya. Orang itu adalah mantan Walikota Sawahlunto, Amran Nur.

Agaknya Medi ketika itu bertemu orang dan mentor yang tepat. Amran Nur mempunyai visi yang melampaui pemimpin-pemimpin di Sumatera Barat kala itu. Selain itu iya juga mempercayai anak-anak muda untuk membantunya membangun Sawahlunto.

”Kalau anak muda seperti Anda mau bantu saya, kita akan tinggalkan legasi di kota ini,” kenang Medi ketika mengingat ucapan Amran Nur.

“Pak Amran Nur merangkul anak-anak muda untuk mengembangkan Sawahlunto dan membuatnya bangkit dari keterpurukan. Beliau memperkirakan bahwa dalam 5-6 tahun Sawahlunto akan bangkit lagi dan menargetkan Sawahlunto menjadi salah satu bagian dari World Herritage UNESCO,” jelas Medi.

Medi menjadi satu di antara pemuda-pemuda yang dibina oleh Amran Nur. Tak tanggung-tanggung, sang Walikota sampai memberikan pelatihan dengan mentor-mentor terbaik untuk Medi dan rekan-rekan sesama ASN. “Kami difokuskan untuk mematangkan konsep kerja dan integritas,” jelasnya.

Proses yang dilalui Medi tidak sia-sia. Tahun 2005, Medi berpindah instansi ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) Sawahlunto, sebagai Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pertambangan dan Energi. Pada periode ini Medi melakukan pendekatan kepada masyarakat Sawahlunto secara umum, termasuk yang pernah melakukan penambangan liar.

“Saya dekati, ajak ngobrol mereka. Saya sampaikan bahwa kalau saya di posisi mereka, saya juga akan melakukan hal yang sama,” jelas Medi. Sikap simpatiknya terhadap masyarakat membuat ia diterima dengan baik. “Di antara mereka banyak yang sampai sekarang berteman dengan saya. Banyak yang saat ini sudah sukses secara ekonomi,” imbuh Medi.

Sebagai orang yang bertanggung jawab dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertambangan, Medi memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang bagaimana mengelola wilayah bekas pertambangan.

Medi berperan penting dalam mengelola wilayah bekas pertambangan di Sawahlunto menjadi kawasan Wisata. “Saya berperan dalam merapikan wilayah-wilayah tersebut. Contohnya saja di kawasan Kandi, kita kembangkan pariwisata dengan membangun lapangan pacuan kuda dan kebun binatang,” jelasnya.

Kualitas Kinerja Medi selama menjadi Kepala Bidang Pertambangan dan Energi Dinas Perindagkop Kota Sawahlunto mengantarkan ia dipercaya memegang posisi Sekretaris Bappeda Kota Sawahlunto pada 2010. Tak berselang lama, ia kemudian beralih menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, dilantik pada 2011.

Selama periode ini, Medi berperan penting dalam membangkitkan perekonomian Kota Sawahlunto, dari bekas kota tambang yang nyaris mati menjadi kota pariwisata bersejarah dengan jumlah kunjungan hingga 12 kali lipat dari jumlah penduduknya.

“Pada 2012, jumlah kunjungan ke Kota Sawahlunto mencapai angka 600 ribu, sedangkan penduduk Sawahlunto hanya sekitar 50.000 jiwa,” jelasnya. 

Harapan kembali menyala di Sawahlunto melalui Pariwisata yang kemudian mengantarkan Kota tersebut menjadi Kota dengan tingkat kemiskinan terendah nomor 2 se-Indonesia.

“Sebelumnya, pada 2003, pertumbuhan ekonomi kita -6%,” jelas Medi.

Tantangan Baru di Kota Padang

Tahun 2015 Kota Padang mengadakan seleksi terbuka di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Medi yang telah menyelesaikan pencapaiannya di Sawahlunto melihat itu sebagai sebuah tantangan baru. Ia ingin mewujudkan apa yang telah dicapainya di Kota Sawahlunto di Ibu Kota Provinsi.

“Saya tertarik untuk mencoba hal baru,” ujar Medi.

Dalam makalah yang ia susun untuk mengikuti rangkaian seleksi, ia menggarisbawahi bahwa kawasan Pantai Padang adalah ‘wajah’ dari pariwisata di ibukota provinsi, sehingga perlu dikelola dengan lebih serius.

Setelah mengikuti seleksi terbuka tersebut, Medi sempat menunaikan ibadah haji. “Di tanah suci, saya menerima panggilan telepon dari Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia Padang saat itu, Pak Asnel. Beliau meminta saya mempersiapkan diri untuk dilantik,” jelas Medi.

Setelah dilantik, Medi kemudian berkesempatan untuk bertemu Mahyeldi. “Pak Mahyeldi (walikota Padang saat itu, red.) dalam satu kesempatan memanggil saya, beliau bilang bahwa sudah membaca makalah saya. Beliau kemudian menganggap rencana saya dalam makalah tersebut sebagai janji, dan beliau meminta saya menunaikan janji tersebut,” jelas Medi.

“Saya punya target, Pantai Padang harus dibenahi, karena ia merupakan salah satu kawasan pariwisata yang menjadi objek vital nasional di Sumbar, selain Istana Pagaruyung,” jelas Medi. Tidak membutuhkan waktu lama, pada 2017 kawasan Pantai Padang berhasil dibenahi. “Orang-orang kemudian jadi semakin ramai ke Pantai Padang, saking banyaknya sampai macet,” ujar Medi. 

Terbukti, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Padang pada 2017 mencapai Rp. 105 milyar, naik dari Rp. 17,5 milyar. Pendapatan tersebut didapat dari retribusi akomodasi dan konsumsi, mencakup antara lain hotel dan restoran. “Semakin banyak investasi masuk ke Padang, sehingga ekonomi semakin hidup,” jelas Medi.

“Meskipun menjabat Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, kinerja saya lebih banyak dalam melakukan perencanaan dan koordinasi dengan berbagai instansi, mirip dengan apa yang dikerjakan Bappeda,” ujar Medi. Tak heran jika kemudian Medi dipercaya untuk menjadi Kepala Bappaeda Padang, terhitung sejak 2019.

Sebagai Kepala Bappeda Kota Padang, Medi lagi-lagi mengukir prestasi. Dalam Penilaian Perencanaan Pembangunan Nasional 2020, Padang berhasil meraih juara 1 di Sumbar. Padang sebagai wakil Sumbar kemudian masuk seleksi tahap nasional yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas yang kemudian meraih hasil memuaskan, meraih peringkat dalam Penilaian Perencanaan Pembangunan Nasional.

“Karena keberhasilan Kota Padang saat itu, Bappeda Padang mendapatkan reward berupa penambahan DID (Dana Insentif Daerah). ASN di Bappeda Padang kemudian dibekali pendidikan dan latihan dari Bappenas,” ujar Medi.

Harapan Lebih Besar di Dapur yang Lebih Besar

Medi kemudian dipercayai lagi untuk merengkuh amanah yang lebih besar, menjadi Kepala Bappeda Sumbar. Ia dilantik pada Jumat, 1 Oktober 2021. “Saya berharap bisa membantu mewujudkan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumbar, mengawalnya supaya bisa terlaksana,” jelas Medi.

Menurutnya, ada 3 hal terpenting yang menjadi perhatian Bappeda bekerja sama dengan Gubernur dan DPRD dalam mewujudkan RPJMD Sumbar, pertama peningkatan kesejahteraan petani, kedua pariwisata, dan yang ketiga adalah UMKM.

Terkait kesejahteraan petani, Medi menyampaikan, “sekitar 24% masyarakat Sumbar bekerja di sektor pertanian. Namun ada tantangan-tantangan yang lazim dihadapi oleh petani, antara lain kesulitan panen dan harga panen yang turun.”

Ia melanjutkan, “bicara pertanian bukan hanya soal bibit, namun juga tentang transportasi dan pasar. Kompleks.” Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, ia memprioritaskan hilirisasi pertanian.

“Hilirisasi pertanian meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian, mencakup peningkatan teknologi serta persiapan untuk masuk pasar ekspor. Kita punya Pelabuhan Teluk Bayur, sayang apabila tidak dimanfaatkan untuk memasarkan hasil pertanian kita hingga ke pasar internasional, sampai ke Afrika,” imbuh Medi.

Terkait pariwisata, Medi merencanakan pemberdayaan masyarakat di kawasan pariwisata dengan mengembangkan desa wisata. 

“Sumbar memiliki potensi besar, hanya saja banyak hal yang perlu ditingkatkan, antara lain terkait sanitasi. Masyarakat juga harus dilibatkan dan diberdayakan dalam peningkatan pariwisata, salah satu solusinya adalah pengembangan desa wisata,” imbuhnya.

“Salah jika kita hanya mengundang banyak investor namun tidak melibatkan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Jika seperti itu, wajar jika masyarakat tidak mendukung. Oleh karena itu, jangan sampai masyarakat tidak mendapatkan kesejahteraan dari hasil pariwisata,” jelas Medi.

Meskipun memiliki rekam jejak yang mengesankan di pemerintahan daerah, Medi mengaku bahwa ia tidak siap untuk merengkuh jabatan yang lebih tinggi lagi, antara lain sebagai gubernur. “Pekerjaan yang saya laksanakan sejauh ini adalah pekerjaan dapur, pekerjaan di balik layar. Saya tidak siap untuk mendapatkan banyak sorotan,” pungkas Medi.

Medi Iswandi mungkin menggambarkan dirinya sebagai sosok yang bekerja di dapur. Namun, makanan yang lahir dari dapur dengan orang-orang yang penuh dedikasi tentunya tidak akan pernah mengecewakan. Medi Iswandi telah membuktikan itu di Kota Sawahlunto dan Kota Padang.

Kini Medi bekerja di dapur yang lebih besar, dengan harapan yang juga tak kalah besar. Kita Semua tentu menunggu sajian besar seperti apa yang akan disajikan. Apalagi pemilik dapur sudah memberikan dukungan penuh. Pak Medi, kami tunggu sajiannya!

Halaman:
1
2
3
4
5
6

Editor: Emen HLN

Terkini

Nasib Malang Si Sapi Bantuan

Rabu, 5 Januari 2022 | 14:31 WIB
X