Jagalah Buya!

- Senin, 6 September 2021 | 18:37 WIB
MUSFI YENDRA
MUSFI YENDRA

Tolong catat! Tulisan ini bukan opok-opok. Angkat telur. Cari muka, atau semacamnya.

Saya blak-blakan saja! Kita diajarkan untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Saya bukan orang dekat Buya Mahyeldi dalam hal kekuasaan. Saya juga bukan tim suksesnya. Pilkada lalu saya tidak memilih Buya. Saya termasuk kelompok warga Kota Padang yang menginginkan beliau menuntaskan amanahnya sebagai walikota. Sebagaimana pernah ia janjikan dihadapan publik. Saya juga tidak memiliki tendensius apapun dengan Buya. Secara pribadi saya kenal baik, sejak ia menjabat Walikota Padang.  Tapi saya bukan ring piston kekuasaannya ya. He.. he..

Kini Buya sudah jadi gubernur. Gubernur kita warga Sumatera Barat. Perbedaan pilihan politik sudah selesai. Di awal kepemimpinan ini Buya banyak dapat sorotan. Bertubi-tubi isu menerpanya. Politik itu selalu gaduh. Pro kontra biasa saja. Makin gaduh makin asik. Goreng-menggoreng dimana-mana.

Masa jabatan Gubernur Buya masih panjang. Kalau gaduh terus, tentu juga tidak sehat. Sedikit banyak akan menganggu konsentrasinya. Buya itu manusia yang punya rasa. Buya itu orang baik. Karena kebaikannya ia dicintai banyak orang.  Karena baik itu ia selalu menang dalam kontestasi politik. Sejak anggota DPRD Sumbar, Wakil Walikota dan Walikota Padang, hingga kini jadi Gubernur.

Istri Buya, Umi Harneli juga orang baik. Iya bukan hanya ibu bagi anak-anaknya. Tapi umi bagi orang miskin. Kabarnya di rumah dinas, semua pembantu, sopir, tukang kebun, ajudan, sespri atau siapapun bisa makan dari periuk dan lauk yang sama dengan gubernur. Jagalah kebaikan Buya agar memberikan kemaslahatan. Kedaulatan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jabatan hanya sesaat, pertanggungjawabannya dunia akhirat.

Buya itu orang sholeh. Dengan kesholehan dan amalannya Allah berikan kemuliaan kepadanya. Dari anak orang biasa, diberi amanah memimpin jutaan rakyat di provinsi ini. Jauhilah ia melakukan kesalahan yang disengaja. Apalagi sekedar memanfaatkan nama besar Buya untuk kepentingan pribadi.

Buya itu orang lurus. Tapi jangan sampai ia dikultus. Buya itu manusia biasa. Jangan sampai dianggap malaikat. Jangan sampai pula ia dibengkokan demi kepentingan segelintir kelompok. Jika ia khilaf berikannya nasehat.

Buya itu orang taat. Jangan arahkan atau beri masukan yang menyesatkan. Terutama dalam merumuskan kebijakan. Jangan sampai melawan aturan.

Buya itu sosok yang sederhana. Tapi janganlah selalu mengekspos kesederhanannya untuk pencitraan. Jika sedang menghadapi masalah, berikan ia ruang untuk menyelesaikannya. Jika ia dikritik terimalah sebagai introspeksi. Bukan membalas dengan kebencian dan emosi. Apalagi menabuh genderang perang.

Halaman:

Editor: Bhenz Maharajo

Tags

Terkini

Mendulang Cuan dari Setrika Arang

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:41 WIB

Sumbar Darurat Kekerasan Seksual

Rabu, 17 November 2021 | 18:23 WIB
X